KI, KO, NU, TA, IYYEK, KATTE, DALAN KONTEKS APA SAPAAN ITU HARUS DIGUNAKAN

KI, KO, NU, TA, IYYEQ, KATTE, DALAM KONTEKS APA SAPAAN INI HARUS DIGUNAKAN 

Oleh : Muhammad Alam Syah 


Pernahkah anda mendengar ungkapan ini dalam bahasa Makassar? "kemaeki", "kemaeko", "kau amballi", "katte amballi". "Ballatta", "ballaqnu" dsb. Kalimat Ini sudah lazim terdengar dikalangan masyarakat yang menjadikan bahasa Makassar sebagai bahasa sehari-hari. Baik itu berdomisili di tanah Makassar maupun di luar Makassar. Contoh lain: "bellako", "bellaki" yang memiliki arti yang sama yaitu "kamu jauh". "lamennu", "lamenta" yang berarti "ubimu". "Kaumo bella", "kattemo bella" yang keduanya berarti "anda saja yang jauh"


"Kemaeki" dan "Kemaeko" keduanya memiliki makna yang sama yaitu "kamu di mana" : "kau di mana" atau "engkau di mana". Lantas apakah penggunaan "ki" dan "ko" dalam kata "kemae" tersebut boleh digunakan kepada siapa saja yang menjadi lawan bicara kita? Tentu saja tidak. Penggunaan "ko" dalam kata yang mengikutinya tentunya lebih spesifik digunakan dalam percakapan antara dua orang yang memiliki strata usia yang sama. Termasuk dikalangan antar remaja dan anak- anak. "Ko" tidak boleh digunakan dalam kata yang mengikutinya  jika yang menjadi lawan bicara kita adalah orang yang lebih tua dari kita. Misalnya seorang anak yang berbicara kepada ibunya, seorang anak kepada ayahnya, seorang anak kepada kakeknya, seorang anak kepada kakaknya karena itu dianggap sebagai hal yang  kurang sopan. Contoh dialognya sebagai berikut : 


Anak : kemaeko ammalli jukuk ammaq ( di mana ibu membeli ikan ) 

Ibu : Anjoeng ri pasaraka nak ( situ di pasar nak). 


Konteks kalimat percakapan di atas merupakan dialog  seorang anak dan ibunya. Namun, jika dilihat secara santun dan adab dalam sudut pandang orang Makassar,  maka ucapan sang anak dalam contoh dialog di atas dianggap tidak sopan. Lalu bagiamana konteks kalimat yang benarnya jika diluruskan secara tatabahasa yang memiliki kesan kesopanan menurut pandangan  orang Makassar? Berikut pembenarannya :  


Anak : Kemaeki ammalli jukuk Amma? ( Di mana ibu membeli ikan) 

Ibu : Anjoeng ri pasaraka nak (situ di pasar nak). 


"Ki" pada kata "kemaeki" merupakan suatu telaah sosial dalam masyarakat makassar yang mencerminkan adab seseorang dalam berbicara. Simbolitas dari suatu gambaran bagaimana seorang anak yang terdidik tentang etika dilaog dalam keluarganya. Memberikan audiovisual terhadap lawan bicaranya bahwa dia adalah seseorang yang santun dan memahami konsep etika dalam berbicara. Sopan dan beradab. 


Berbeda dengan "ko" pada kata kemaeko dalam dialog di atas, justru menjadi cerminan ketidaksopanan dan tidak adanya rasa hormat dan tatakrama yang baik oleh seorang anak terhadap orang tuanya. Dan itu tidak bisa terbantahkan,karena konteks ketatabahasaan dalam masyarakat Makassar memang seperti itu. Meskipun sebenarnya seoarang anak tersebut pada dasarnya sangat santun terhadap orang tuanya dari segi prilakunya. Tapi, dari segi bahasanya dianggap tidak santun dan tidak  beretika. Hal demikian semakin marak kita jumpai. 


Penggunaan "ki" sebagai sapaan pengganti yang sopan saat berbicara dengan orang lain semakin terkikis. Kesan moral tatakrama bahasa yang santun menjadi hambar dan memunculkan kesan lancang dan  "kurang ajar.


Begitipun dengan "nu" dan "ta", pengganti sapaan bagi seseorang ketika kita berdialog dengannya. "nu" mememiliki nilai rasa kesetaraan baik dari segi usia maupun hubungan kedekatan atau hubungan emisional. Berbeda dengan "ta" Tentunya memiliki nilai rasa kesopanan yang tinggi. Perhatikan kutipan dialog dibawah ini : 


Dialog 1 

Sangkala : ladingnu anne Baso?( ini pisaumu Baso?) 

Baso : iyyo Sangkala ( ya, betul sangkala ) 


Dialog 2 

Sangkala : Ladingta anne Katte ( ini pisau anda? ) 

Baso: iyyek ladingku katte ( ya, itu pisauku) 


Dari kedua kutipan dialog di atas, maka dialog 1(satu) memiliki nilai kesetaraan dari segi usia seseorang terhadap lawan bicaranya. Memiliki kedekatan yang dalam. Mungkin keluarga dekat , sahabat atau orang yang telah lama dikenalnya. Dalam konteks yang seperti itu menurut pandangan umum tata bahasa Makassar dianggap sebagai hal yang lumrah dan tidak menyalahi norma kesopanan. Berbeda jika orang tersebut baru dikenalnya atau orang yang lebih tua ,maka konteks itu dianggap tidak sopan jika memakai "nu" dalam kalimat atau kata yang ditujukan kepada lawan bicaranya. 


Berbeda dengan diaolog 2 (dua), dari nilai rasa atau kesan kesopanannya sangat tinggi. Penggunaan "ta" pada "ladingta " yang bermakna "pisau anda" adalah estetika tertinggi dalam bahasa makassar untuk  penyapaan seseorang, baik dikalangan anak- anak, remaja ,antar tetua, lingkup bangsawan dan kalangan menengah ke bawah. Apalagi disertai dengan sapaan "katte" dan "iyyeq" yang memiliki  filosofi makna "mulia dan terhormat" sebagai penghargaan tertinggi terhadap lawan bicara. Hal itu terlihat dalam kutipan dialog 2 ( dua) di atas yang substansi etikanya begiti terasa dan santun. 


"Ta" dalam hal ini bisa pula menjadi makna "kepemilikan" terhadap suatu benda. Misalnya : "kaderata": "kursi anda", "otota": "mobil anda", "talipongta": "telpon anda" dsb. *** 


Bontoa, 30 April 2025 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsila Keturunan I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa Ke - VI

PENGUKUHAN DAN PELANTIKAN PENGURUS LEMBAGA IKATAN TRAH I PANDIMA DAENG MALLIONGI KARAENG BONTOA KE - VI MATINROA RI TANGKURU OLEH SOMBAYYA DARI GOWA

ASAL- USUL ARU ( AKNGARU) DAN PERGESERANNYA YANG TIDAK PADA TEMPATNYA ( BAGIAN 1 )