PERTARUNGAN DAHSYAT : KALIABONA PANJALLINGANG, KORONA TALAWE
Antara Fakta dan Imajinasi
PERTARUNGAN DAHSYAT : KALIABONA PANJALLINGANG, KORONA TALAWE, BURIKNA BALOSI, BAKKAKNA SIKAPAYYA, KORONA LALANG TEDONG, LAPPUNGNA PADARIA, CAMPAGANA BATUBASSI, IJONA TANGKURU, PONDONGNA KASSIJALA, BULENG- BULENGNA SOREANG, TALAUNYIKNA LABBAKKANG, BULUARANA TEKO DAN BAKKAE DARI MARE'
I
Dikisahkan beberapa sosok pemberani dari suatu tempat yang terdapat dalam lingkup Kerajaan Bontoa pada masa lalu. Mereka adalah sosok dari orang - orang yang sakti mandraguna, memilki keberanian yang sangat luar biasa dan mereka memiliki kemampuan ilmu bela diri yang mumpuni. Ditambah lagi dengan ilmu kebatinan yang tinggi. Mereka tidak mampan akan senjata, baik itu badik, kelewang, tombak dan senjata tajam lainnya. Mereka adalah Sang Koroa dari Talawe, Sang Koroa pula dari Lalang Tedong, Sang Lappunga dari Padaria, Sang Kaliaboa dari Panjallingang, Sang Bakkaka dari Sikapayya, Sang Burika dari Balosi, Sang Pondonga dari Kassijala dan Sang Lappung dari Padaria. Turut pula disebutkan sosok pemberani dari luar wilayah kerajaan Bontoa seperti Sang Campagayya dari Batu Bassi, Sang Buleng- Bulenga dari Soreang dan Sang Ijo dari Tangkuru. Sang Talaunyika dari Labbakkang, Sang Buluarayya dari Teko dan Sang Bakkae dari Mare' kerajaan Bone.
Menurut beberapa tutur lisan dari tetua dahulu bahwa, nama- nama tersebut di atas merupakan nama dari beberapa jenis ayam jantan yang biasa digunakan dalam pertarungan sabung ayam oleh kaum Bangsawan dahulu kala. Namun, yang dimaksud dalam hal ini bahwa dari nama- nama ayam jantan yang telah disebutkan tersebut di atas sebenarnya adalah gelar atau sosok seorang manusia yang berilmu tinggi. Sosok lelaki tangguh, lelaki gagah ,pemberani dan berkharisma. Tentunya memiliki nama diri masing - masing. Akan tetapi, diberi gelar oleh masyarakat setempat pada waktu itu karena kemampuannya masing-masing. Satu alasan mengepa diberi gelar demikian karena sosok mereka ketika bertarung dalam gelanggang pertarungan memiliki perangai seperti nama-nama ayam jantan yang telah disebutkan di atas. Seperti sang petarung yang pemberani dari Talawe bergelar Korona Talawe , dari Panjallingang digelari Kalibona Panjallingang, dari Tangkuru bergelar Ijona Tangkuru, dst. Kelihaian dan perangai mereka ketika menendang, menyerang, melompat sambil memukul lawan laksana ayam jantan yang tangguh ketika sementara diadu.
Menurut tutur lisan yang turun temurun dari beberapa informasi yang dihimpun oleh penulis bahwa pernah suatu ketika mereka beradu kesaktikan atas perintah Sombayya dari Gowa. Siapa yang menang, akan diberikan posisi atau jabatan tertinggi dalam istana kerajaan Gowa, yaitu menjadi Panglima perang kerajaan Gowa.
Mereka pun bertarung satu sama lainnya. Namun pada akhirnya pertarungan itu imbang, karena memiliki kemampuan dan kesaktian yang sama. Tidak bisa ditentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kecuali pertarungan antara Sang Bakkakna Sikapayya dengan Burikna Balosi yang akhirnya kemenangan berada di Tangan Sang Burikna Balosi. Ia mengakhiri pertarungan dengan melompat sambil menendang sang Bakkakna Sikapayya sehingga terpental sejauh tujuh meter dari area tarung. Sehingga sang Bakka harus mengakui kehebatan Burikna Balosi. Begitupun dengan pertarungan Sang Talaunyika dari Labbakkang dengan Sang Buluarakna Teko, kemenangan diraih oleh Sang Buluarakna Teko.
Pertarungan semakin sengit. Pertarungan sudah berlangsung selama tiga hari tiga malam. Sesi tarung kali ini adalah Buleng- Bulengna Soreang melawan Sang Kaliabona Panjallingang. Namun salah satu diantara mereka tiada satu pun yang terkalahkan, sehingga sulit ditemukan siapa pula pemenangnya.
Pertarungan antara Buleng- Bulengna Soreang dengan Kaliabona Panjallingang kini berlangsung Tujuh hari tajuh malam. Suara gong dan tunrung pamancak dari serambi baruga semakin memanas. Tak satu pun diantara mereka yang tumbang atau kalah. Perkakas demi perkakas yang dimiliki oleh keduanya telah rusak, patah - patah karena keduanya memiliki tubuh yang kebal.
Awalnya mereka bertarung dengan menggunakan badik, namun badik dari Sang Kaliabona Panjallingang yang dihunjamkan ke tubuh Buleng-Bulengna Soreang, patah - patah menjadi tujuh bagian. Begitupun dengan badik milik Sang Buleng- Bulengna Soreang yang dihunjamkan ke dada Kaliobona Panjallingang hancur luluh seperti kaca yang remuk, pecah- pecah. Keduanya saling sigap, terkadang serang menyerang, tangkis menangkis pukulan, terkadang lompat melompat sambil menendang laksana ayam jantan yang beradu digelanggang.
Pertarungan berikutnya lebih mengerikan lagi. Mereka menggunakan poke ( tombak). Lagi- lagi tidak bisa saling menembus di antara keduanya. Tombak dari Buleng- Bulengna Soreang yang menusuk Perut Kaliabona Panjallingang menggerincing seperti menghunjam besi baja, muncul kilatan api seperti petir yang menyala dilangit. Tombak Buleng- Bulengna Soreang meleleh seperti magma merah setelah mendarat di perut Sang Kaliabona Panjallingang. Sang Kaliabona Panjallingang menyerang balik pula dengan melompat ke atas lalu menancapkan mata tombaknya pas di atas kepala Buleng- Bulengna Soreang. Tapi apa yang terjadi di luar dugaan, mata tombak itu justru berbunyi kresek seperti daun-daun kering yang terinjak. Mata tombak dari serangan Kaliabona Panjallingang seketika saja menjadi serpihan- serpihan kecil seperti daun - daun kering yang remuk terinjak.
Pertarungan mereka sungguh dahsyat. Sungguh mengguncang arena tarung. Semua orang yang hadir di tempat itu tercengang menyaksikan pertarungan mereka yang tiada tara.
Pertarungan mereka pun berlanjut. Keduanya menggunakan senjata berupa klewang panjang. Kali ini lebih mengerikan lagi. Tebasan parang dari Kaliabona Panjallingang yang mendarat di leher Buleng- Bulengna Soreang sepintas membela leher Sang Buleng- Bulengna Soreang. Namun setiap kali ia ditebas, setiap kali pula luka di lehernya itu kembali pulih seperti sebelumnya. Seperti tidak ada luka atau bekas tebasan di lehernya. Sembuh seketika melampaui hitungan detik.
Keduanya bertarung dengan sengitnya, Sang Kaliabona Panjallingang yang mendapatkan serangan balasan parang dari Buleng- Bulengna Soreang dengan sigap ditangkisnya namun tetap saja mengena pada pergelangan lengannya sehingga lengan kirinya terputus.Terpisah dari badannya dan jatuh ke tanah.
Sang Kaliabona Panjallingang mengambil nafas sejenak sambil memandangi Buleng- Bulengna Soreang lalu menganggukkan Kepalanya. Lengan sebelah kirinya yang terputus dan bersimbah darah itu ia tatapi sejenak. Ia pun melangkah ke samping mengambil lengann kirinya itu yang tergeletak di tanah kemudian ditempelkan kembali pada pangkal sendi lengan atasnya. Sekali usapan seketika saja lengannya itu tersambung kembali dan tidak ada bekas luka dan bercak darah sedikit pun. Mungkin inilah yang disebut ilmu rawarontek, entahlah....namun itu yang terjadi pada Kaliabona Panjallingang ***
Bersambung.....
Redaksi : Muhammad Alamsyah P. Lira (Alam Raweta)
Komentar
Posting Komentar