I MANNYARRANG ( KARAENG BONTOA PERTAMA), I MANYUARANG ( KARAENG BONTOA KEDUA) ISLAM ATAU BUKAN ?

I MANNYARRANG ( KARAENG BONTOA PERTAMA), I MANYUARANG ( KARAENG BONTOA KEDUA)  ISLAM ATAU BUKAN ? 


Merujuk pada Buku Kakarengang Bontoa yang ditulis oleh Muhammad Aspar dan beberapa referensi terkait, dikatakan bahwa perjalanan I Mannyarrang sebagai duta Somba Gowa untuk memperluas wilayah kekuasaannya di bagian utara Maros bisa dikatakan tidak mendapatkan perlawan.


Beberapa sumber mengatakan bahwa Bontoa merupakan daerah yang memiliki tipografi yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekelilingnya. Bontoa tidak pernah mengalami kebanjiran atau tergenang oleh air bah dan air hujan meskipun daerah sekitarnya  sering kali mengalami kebanjiran. Bontoa, konon dulunya disebut pula Tanetea. Tanetea memiliki arti dataran yang lebih tinggi dibandingkan dataran lainnya sehingga lebih seringkali dijadikan ( agang nionjok) atau tempat berpijak  yang baik.  

Kerajaan Bontoa terletak di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Kepala pemerintahannya dipimpin oleh seorang raja yang bergelar Karaeng. Kerajaan Bontoa diperkirakan awal  berdirinya sekitar tahun 1550. Namun sumber lain mengatakan Kerajaan Bontoa berdiri tahun 1700, bahkan ada yang mengatakan berdiri sekitar tahun 1600. Akan tetapi ,jika dikatakan berdiri sekitar tahun 1700, dapat terbantahkan karena tidak sesuai dengan masa pemerintahan Raja Gowa yang ke - X bernama I Manriwa Gauk Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng yang mengutus seseoaramg yang merupakan cucunya sendiri bernama I Mannyarrang sebagai  dutanya untuk mendirikan kakarengan ( kerajaan yang dinaungi oleh kerajaan Gowa) di bagian utara Maros saat itu. Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Bontoa ( Kakaraengang Bontoa). 


I Mannyarrang, seorang bangsawan dari daerah Bangkala ( Jene Ponto) putra dari I Pasiri Dg Mangngasi Karaeng Labbua Tali Bannangna dari kerajaan Bangkala dengan istrinya bernama I Daeng Takammu Karaeng Bili' Tangngayya ( putri dari I Manriwa.Gauk  Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng : Raja Gowa ke - X yang memerintah pada tahun 1546-1565).  


Pada zaman pemerintahan I Manriwa Gauk Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulawang Raja Gowa ke - X, paham agama yang mendominasi masih bersifat anisme. Belum tersentuh paham lain dan ajaran islam. 

Islam masuk ke Gowa pada tahun 1605 ( abad 17 ) ketika masa pemerintahan I Mangngakrangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Raja Gowa ke -  XIV. Pada saat itu pula beberapa penasehatnya  memeluk Islam. Termasuk diantaranya adalah mangkubuminya sekaligus pamannya sendiri yang bernama I Mallingkang Daeng Nyonri Karaeng Katangka  yang diberi gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Beliau ini merupakan  pula  Raja Tallo yang bergelar  Karaeng Matoayya. 


Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan khususnya di kerajaan Gowa  bermula dari kedatangan tiga mubaligh dari Koto Tengah, Minangkabau. Tiga muballig tersebut yaitu Datuk Ribandang, Datuk Ditiro dan Datuk Patimang. Dan mereka inilah yang memperkenalkan islam kepada Raja Gowa sehingga islam mendominasi di kerajaan Gowa sebagai agama kerajaan pada awal 1607. 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan  bahwa I Mannyarrang yang merupakan cucu dari Karaeng Tunipallangga Ulaweng Raja Gowa ke- X, belum memeluk agama islam. Mengapa dikatakan demikian?  karena semua referensi merujuk pada pernyataan yang menyimpulkan bahwa I Mannyarrang mendirikan Kerajaan Bontoa Pada masa pemerintahan Raja Gowa Ke- X yaitu masa pemerintahan kakeknya menjadi Sombayya di Gowa ( masa I Manriwa Gauk Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng  Raja Gowa ke - X yang memerintah tahun 1546- 1565 ). Beliaulah yang mengutus I mannyarrang ke bagian utara Maros untuk mendirikan kerajaan atau kakaraengang  ,yaitu Kerajaan Bontoa. Pada kisaran tahun tersebut, islam belum masuk ke wilayah Makassar ( Kerajaan Gowa) saat itu. 


Kesimpulan kedua yang menyatakan bahwa I Mannyarrang belum memeluk agama islam adalah, islam masuk ke kerajaan Gowa ketika awal masa pemerintahan Raja Gowa ke - XIV (1605) . Sementara itu I Mannyarrang diperkirakan  hidup sezaman dengan raja Gowa ke X - ( 1546- 1565). Jadi sangat jelas rentang waktu yang sangat jauh antara masa Raja Gowa ke - X dan masa I Mannyarrang dengan runutan tahun masuknya islam di kerjaan Gowa. 


Bukti fisik ketiga yang menandakan bahwa I Manyarrang belum memeluk islam dapat dilihat dari batu jirat dan nisan makam beliu yang berada di Lingkungan  Bontoa, Kelurahan Bontoa,  Kecamatan Bontoa. kabupaten Maros. Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.  Makam beliau sama sekali tidak memiliki ciri nisan dan batu jirat islam.  Batu nisan makam beliau berbentuk menhir yang terbuat dari batu asli. Tidak ada sentuhan ukiran dan tidak ada pula ciri nisan islam seperti model makam - makam islam tua lainnya yang ada di Sulawesi - Selatan. Namun disayangkan sekarang, telah direnovasi dan mengubah bentuk batu jirat aslinya. Fatalnya lagi, memberikan model batu nisan islam yang bercorak islam  modern. Hal ini bisa dikatakan sebagai bentuk pengrusakan situs makam kuno. Berniat baik merenovasi tanpa memahami latar belakang kesejarahannya. Makam ini adalah aset budaya, merupakan sumber informasi dalam bentuk benda mengenai peradaban kerajaan Bontoa beberapa abad silam. 


Model makam islam tua yang ada di Sulawesi - Selatan rata- rata berbentuk stupa atau berbentuk kubah masjid ( punden berundak) yang mendapat pengaruh dari model pemakaman islam melayu. Mengapa demikian ,karena islam pertama kali di bawah masuk ke Sulawesi Selatan oleh orang - orang Melayu. Tentu saja, kebudayaan islam dan struktur pola sosial serta konsep religinya secara otomatis mempengaruhi kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya dalam aspek budaya dan keagamaan. 


Jika I Mannyarrang dikatakan seorang Islam, Mengapa nisannya berbentuk batu menhir seperti makam - makam raja lainnya yang belum memeluk islam? Bukankah hal itu adalah bukti pernyataan sejarah yang selama ini terpendam dan patut  untuk diteliti keberadaannya? Mampu memberikan petunjuk tentang riwayat agama beliau bahwa apakah beliau itu belum memeluk agama islam pada masa hidupnya? Begitupun dengan I Mannyurang ( Karaeng Bontoa ke -II) yang merupakan adik dari I Mannyarrang, dimana keduanya tentunya  hidup sezaman. 

Wallahu allam bishawwab. *** 


Redaksi : Muhammad Alamsyah Krg. Lira. 

Gambar : Lokasi Makam I Mannyarrang Karaeng Bontoa Pertama , di Lingkungan Bontoa 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsila Keturunan I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa Ke - VI

PENGUKUHAN DAN PELANTIKAN PENGURUS LEMBAGA IKATAN TRAH I PANDIMA DAENG MALLIONGI KARAENG BONTOA KE - VI MATINROA RI TANGKURU OLEH SOMBAYYA DARI GOWA

ASAL- USUL ARU ( AKNGARU) DAN PERGESERANNYA YANG TIDAK PADA TEMPATNYA ( BAGIAN 1 )