SERBA - SERBI KAMPUNG BONTOA

SERBA-SERBI KAMPUNG BONTOA 


Bontoa. Nama kampung kecil yang saat ini sekaligus menjadi sentra nama dari sebuah kecamatan yaitu Kecamatan Bontoa. Terletak di sebelah utara Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi Selatan. Bontoa merupakan kampung yang dipenuhi oleh rerindang  bambu menghijau, beberapa pohon beringin besar berusia puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Salahsatunya adalah beringin yang terletak di makam Karaeng Janggo Bonto yang setiap tahun ranting-rantingnya lapuk termakan usia. Diantara semua beringin yang ada di kampung ini, ada satu yang paling unik, warga sekitar menyebutnya beringin “pocci butayya”, konon menurut tutur lisan dari beberapa tetua yang ada di kampung tersebut bahwa di bawah beringin itu, dulunya merupakan tempat pelantikan para raja- raja Bontoa yang baru diangkat menjadi raja atau karaeng. Itu benar adanya , karena Bontoa dulunya merupakan kerajaan yang cukup eksis di masanya, mulai dari raja pertama sampai raja terakhir. 


Mengenai pohon beringin yang satu ini, memang cukup menarik untuk diulik. Pohon ini dianggap sakral dan keramat. Konon diameter batangnya sekitar 8 Meter. Rongga batang pohonnya seperti kamar rumah yang leluasa  menampung 5-6 orang beristirahat di dalamnya. Ketinggiannya diperkirakan 70 meter. Kerindangannya menjadi rumah bagi burung- burung laut, jalak, glatik, nuri,  dan berbagai spesies bangau dan belibis yang tentu saja menambah pesona fauna Bontoa di masa lalu. Di dalam rongga pohonnya yang luas, orang - orang seringkali berkunjung menyimpan sesajen seperti songkolok aneka rupa, pisang dan makanan - makanan lainnya. Menjadi tempat ritual  allappasa (ritual melepaskan hewan seperti ayam dan kambing bahkan sapi atau kerbau ketika hajat seseorang terpenuhi). Pohon itu betul - betul menjadi ikon Bontoa di masa lalu. Namun sayangnya, eksistensi beringin itu tidak bisa lagi dijumpai sekarang karena tumbang oleh hantaman badai pada tahun 1995, ditambah lagi faktor usia pohon tersebut yang betul - betul sudah tua. 


Di Bontoa ,terdapat situs sumur tua ,yang berusia ratusan tahun. Tak seorang pun yang mengetahui sejak kapan sumur itu dibangun.  Namun jika dilihat dari struktur batu merah yang digunakan, menyerupai struktur batu merah yang terdapat pada benteng- benteng istana kerajaan. Musim kemarau ataupun musim penghujan, sumur ini tak sekalipun mengalami kekeringan. Menurut warga setempat, area sumur tua ini cukup angker, karena seringkali nampak makhluk astral menyerupai kera putih, ular pendek yang berbadan besar, rombongan dayang- dayang yang berjalan mengenakan baju bodo merah dan hijau membawa bosara, kuda putih yang dikendarai oleh seorang lelaki tua yang mengenekan sorban putih, suara seliweran tapakan kuda yang berlari, Entahlah, kemungkinan area sumur tersebut merupakan bekas peradaban kerajaan Bontoa di masa lalu ataukah memang merupakan tempat berkumpulnya makhluk - makhluk astral yang ada  di kampung tersebut. 


Bontoa tanah bersejarah. Terdapat situs makam para raja- raja Bontoa yang tentunya menjadi ikon dan eksistensi kerajaan Bontoa di masa lalu. Beberapa situs makam kuno yang merupakan makam bangsawan - bangsawan dari Bone, Gowa dan Sawitto. Beberapa warga seringkali menemukan benda - benda porselin atau keramik- keramik yang indah ( saladong) berbentuk  piring,guci, sendok, teko, bejana, dan peralatan dapur lainnya jika sedang melakukan penggalian sumur atau penggalian pemakaman jika ada warga yang meninggal dunia. Bahkan, beberapa senjata  berupa badik dan tombak pernah di temukan oleh seorang warga ketika menggali sumur di area persawahan sekitaran kampung tersebut. 


Bontoa di sebelah utara berbatasan Dusun Kassijala., bagian selatan berbatasan Dusun Tangkuru, sebelah timur berbatasan Dusun Belang - belang dan sebelah barat berbatasan langsung dengan Dusun Pattunggalengang. Mata pencaharian warga Bontoa bisa dikatakan dominan sebagai petani padi dan tambak. Selebihnya berprofesi pekerja swasta, pedagang, ASN dan pegawai negeri sipil. 


Bontoa cukup menarik dari segi pesona keindahan alam. Sebelah selatan, timur dan baratnya dikelilingi hamparan sawah dan padi yang hujau-kuning. Sementara di bagian utaranya dikelilingi petak-petak tambak yang luas membentang. Tak ada yang menghalangi pandangan ke timur untuk menikmati langsung mentari pagi yang menanjak di balik pundak Buluq Saraung. Begitupun dengan senja, terlihat merah perlahan turun di ufuk barat bagi siapa saja yang ingin menyaksikannya dari sudut kampung itu. 


Bontoa menyimpan banyak kisah. 1978-1983, di kampung kecil ini pernah didirikan pusat study dan proyek penggarapan kebudayaan dan prospek kemanusiaan yang  disebut ICA (Institut Cultural Affairs ). ICA dalam hal ini sekaligus menjadi  lembaga  sosial yang turut serta bergerak memajukan pendidikan warga sekitar. Hal tersebut terlihat pada bekas bangunan sekolah TK (Taman Kanak-kanak) yang pertama kali didirikan  di bagian utara Maros pada tahun 1979, tepatnya di Bontoa. Beberapa bangunan kantor sekaligus wisma para relawan dari lembaga sosial tersebut masih bisa dijumpai sampai sekarang ini namun, disayangkannya karena beberapa dari bangunan itu telah diambil alih dan direnovasi oleh pemilik lahan dijadikan pemukiman atau rumah tinggal. Karena memang lahan bangunannya bersifat kontrak dan tidak permanen. 

ICA merupakan lembaga dunia yang tenaga ahlinya terdiri dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Ada yang dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. Dari negera lain seperti Belanda, Jerman, Australia, Inggris, Jepang, bahkan Amerika Serikat. Mereka datang dengan membawa misi kemanusiaan dan berdomisili di kampung Bontoa selama beberapa tahun, yaitu sejak awal tahun kedatangan mereka sampai selesai masa kerja sosialnya di kampung tersebut. Mereka yang pertama kali memperkenalkan media televisi dan pemutaran film layar tancap sebagai sarana hiburan modern bagi warga Bontoa kala itu. Turut merekrut pemuda setempat yang memiliki latar belakang pendidikan yang memadai untuk dijadikan staf kantor dengan upah yang lumayan besar. Mereka banyak memberikan kontribusi yang baik terhadap anak-anak serta pemuda pada saat itu khususnya dari segi bahasa dan pendidikan. Maka tak heran jika di Bontoa ketika itu beberapa generasi muda yang tergabung dalam staf kantor  ICA mampu berbahasa asing khususnya bahasa inggris, meskipun mereka tidak terlalu fasih layaknya staf kantor lainnya yang berasal dari beberapa negara luar.


Bontoa memiliki  tradisi budaya masa lalu. Tradisi  "appalilik", "angalle ulu ase", "appadendang", "aktammu taung", "appanaung ri jeqne", " appadongkok", " Songkabala" dan "ganrang pallawa pakrasangang" yang tentunya sekarang mengalami pergeseran karena modernisasi zaman. 


Perkembangan kesenian dan budaya di kampung Bontoa berada pada fase yang cukup baik. Di kampung tersebut, pernah didirikan kelompok musik gambus, kelompok musik orkestra dangdut bernama Irama Senja. Kelompok musik tanjidor yang pernah vakum namun kini kembali eksis setelah dimunculkan kembali oleh generasi muda Bontoa sekarang. 


Kini, beberapa organisasi kepemudaan dan organisasi kesenian masih bisa dijumpai  sampai sekarang. Komunitas Patrol Sahur Family Bontoa,  Sanggar Seni Saraweta Bontoa, Sanggar Seni Bara Ejayya Bontoa, Komunitas Seni Tiga Lontar Polowali Bontoa, Laskar Bontoa ,Lembaga Adat Karaeng Bontoa dan Lembaga Ikatan Trah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa VI. Semua lembaga tersebut memiliki visi dan misi masing- masing yang tentunya adalah untuk perkembangan dan kemajuan Bontoa di masa mendatang. *** 


Bontoa , 02 November 2024. 

Redaksi : Muhammad Alamsyah  P. Lira.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsila Keturunan I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa Ke - VI

PENGUKUHAN DAN PELANTIKAN PENGURUS LEMBAGA IKATAN TRAH I PANDIMA DAENG MALLIONGI KARAENG BONTOA KE - VI MATINROA RI TANGKURU OLEH SOMBAYYA DARI GOWA

ASAL- USUL ARU ( AKNGARU) DAN PERGESERANNYA YANG TIDAK PADA TEMPATNYA ( BAGIAN 1 )