I RAIYA DAN I USENG, MASKOT PASANGAN CINTA SEJATI DARI BONTOA

I RAIYA DAN  I USENG, MASKOT PASANGAN  CINTA SEJATI DARI BONTOA 

Ditulis Oleh : Muhammad Alamsyah P. Lira.


Episode 1 

Awal Mula Pertetemuan Raiya dan Useng.


I Raiya, perempuan Bontoa. Yatim piatu.  Perempuan mungil yang sering tersipu malu.  Sosok perempuan yang menor tampilannya. Merah bibirnya laksana merah delima. Rambutnya terurai, berponi depan keningnya. Rambutnya kadang dikepak membentuk sulaman tali, menjuntai di sebalah kiri - kanan lehernya. Kedua ujung rambutnya yang dikepak, dihiasnya dengan ikatan pita warna- warni. Gadis- gadis sezamannya lebih senang mengistilahkannya dengan rambut model "cacing- cacing". Raiya beda dengan gadis- gadis lainnya. Dandanannya selalu tampil beda. Lain dari yang lain. Kedua lengannya dipenuhi dengan gelang- gelang warna-warni yang hampir sampai dilekukan sikunya. Unik - unik bentuk gelangnya. Selalu mengenakan kalung di lehernya beserta liontin menjadi penghiasnya. Kalungnya panjang terurai di luar bajunya. Entahlah...emas atau perak, plastik atau atau manik- manik, namun yang pastinya berwarna-warni, kadang dua sampai tiga kalung yang ia pakai dalam waktu yang bersamaan. Begitupun dengan anting di telinganya, merumbai panjang dan memilki bentuk yang serba panjang berkilauan di telinganya. Ia suka mengenakan pakaian berwarna cerah. Merah, kuning, pink, ungu dan orange adalah warna favoritnya. Senang mengenakan rok sejengkal dibawah lutut. Kesan yang ia ingin munculkan bahwa dirinya adalah perempuan tercantik di Bontoa dengan gayanya yang serba menor. Tapi, pada kenyataannya, orang -orang kampung memberinya nama  Raiya Baine Rompayya ( Raiya perempuan over style). Tampilan menor Betty La Fea dalam serial telenovela Columbia yang tayang di serial televisi Indonesia tahun 1999 memang parah menornya, namun jauh lebih parah lagi  menornya tampilan Raiya pada zamannya. Bedanya, Betty La Fea  berkacamata lebar dengan lensa bening, sementara Raiya tidak pernah mengenakan kaca mata walau sekalipun. Mungkin karena memang ia tidak memiliki kaca mata ketika itu. Andaikan ada, bisa jadi ia akan memakainya sebagai pelengkap stylenya. Hehegh...


Raiya perempuan unik dalam berdandang. Kukunya saja seringkali dihiasnya dengan koteks yang terbuat dari daun inai. Daun inai dalam bahasa Makassar disebut Lekok Gorongtigi. Laowsonia Inermis istilah latinnya. Ia mengolah daun inai tersebut dengan cara menumbuknya sampai halus. Setelah itu, ia mencampurnya dengan lem yang terbuat dari nasi, lalu ditempelkannya pada kukunya. Ia diamkan beberapa waktu, setelah itu ia melepasnya, maka berwarna orange tualah kukunya. Unik bukan Si Raiya? Iya kan? 


Meskipun tampilan Raiya seperti itu adanya, namun ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Seolah tidak ada beban pada dirinya, meskipun terkadang dicibir oleh orang lain karena tampilannya yang berbeda. Raiya kadang  berjalan- jalan kampung tanpa alas kaki. Terkadang sekali waktu menggunakan sendal jepit Swallow yang usang dibalik telapak kakinya. Pundak kakinya pun terkadang coklet blepotan debu sampai betisnya. Orang - orang dikampung mengistilahkannya dengan sebutan Barumbung Bangkeng ( kaki yang penuh debu) . Meski demikian kondisinya, I Raiya, tetap saja tidak peduli dengan semua itu. Kelugasan hidupnya membuatnya terasa bahagia. 


Raiya sosok perempuan periang, tidak banyak pusing dengan urusan orang lain. Ia menjalani hidup seadanya layaknya gadis-gadis desa lainnya. Bedanya, ia lahir dari kalangan keluarga yang pas- pasan. 

***


I Useng. Sosok lelaki yang bertubuh pendek kekar. Senyumnya unik, ada kesan menghibur jika Useng tersenyum. Mungkin karena giginya yang agak sedikit maju ke depan namun putih, kontras dengan warna kulitnya yang sedikit gelap. Ia senang memakai peci hitam. Kemeja pendeknya yang  bergaris horizontal kadangkala melekat noda pada kainnya. Bercelana puntung yang disertai sarung kotak - kotak melilit pinggangnya. Juga tidak suka pakai alas kaki ke manapun ia melangkah. Di sawah, di tambak, di aspal bahkan medan jalan apapun itu.  


I Useng termasuk pemuda pendatang. Ia dari kampung seberang. Ada yang mengatakan dari Marana, ada pula yang mengatakan dari Tambua. Namun kedua kampung tersebut saling berdekatan. Useng seorang lelaki yang ulet bekerja. Pada zamannya, menjadi buruh tani dan buruh tambak adalah pekerjaan yang menjadi pilihan tepat bagi para pemuda. Maklum, era tahun 60 - an, lelaki dari kampung susah cari kerja di kota karena rata- rata tidak tamat pendidikan Sekolah Rakyat (SR), sekarang sederajat dengan Sekolah Dasar ( SD). 


Useng mulai menetap di Bontoa, karena menjadi buruh tani padi dan buruh tambak pada seorang juragan tanah di kampung Bontoa ketika itu. Sementara Raiya turut pula bekerja  di juragan tanah tersebut sebagai pembantu rumah tangga. Raiya memilih pekerjaan itu karena ingin membantu perekonomian ibu angkatnya yang yang sudah tidak bisa bekerja lagi. Begitupun dengan Useng, yang tidak mau membebani orang tuanya, karena ia terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Dari situlah awal mula pertemuan Useng dengan Raiya yang nantinya menjadi pasangan sejoli yang abadi  kisahnya di Bontoa. Menjadi inspirasi cinta dalam keluarga atau rumah tangga yang penuh keterbatasan ekonomi pada masanya. 

***

Bersambung.......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsila Keturunan I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa Ke - VI

PENGUKUHAN DAN PELANTIKAN PENGURUS LEMBAGA IKATAN TRAH I PANDIMA DAENG MALLIONGI KARAENG BONTOA KE - VI MATINROA RI TANGKURU OLEH SOMBAYYA DARI GOWA

ASAL- USUL ARU ( AKNGARU) DAN PERGESERANNYA YANG TIDAK PADA TEMPATNYA ( BAGIAN 1 )