Catatan Terkini Tentag Kakaraengang Bontoa .
CATATAN PENTING TENTANG KAKARAENGANG BONTOA ERA TERKINI
Oleh : Muhammad Alam Syah Karaeng Lira
Sabtu 25 Maret 2023. Saya diundang ke kediaman keturunan rumpun keluarga Gallarrang Salendrang bernama Sultan Daeng Raja . Saya sebagai perwakilan rumpun I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI. Hadir Perwakilan Rumpun keluarga Karaeng Bontoa Ke XII, rumpun keluarga Karaeng Bontoa ke XIII dan rumpun keluarga Karaeng Bontoa ke XXII. Perihal tersebut membahas tentang lembaga adat Karaeng Bontoa. Namun ada kekeliruan karena lembaga adat tersebut telah dibentuk sebelumnya tanpa melibatkan dan meminta semua persetujuan rumpun keluarga Karaeng Bontoa yang lainnya. Termasuk dari rumpun kami keluarga besar I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke-VI.
Saya hadir hanya sebatas dimintai persetujuan dan pengakuan bahwa Lembaga Adat Karaeng Bontoa telah dibentuk jauh hari sebelum pertemuan ini. Dalam 'ertemuan tersebut diuraikan bahwa pembentukan lembaga adat tersebut telah digagas oleh rumpun keluarga Karaeng Bontoa ke XII , XIII dan XXII.
Pada mulanya saya tidak setuju, karena dibentuk tanpa konfirmasi dan penyampaian awal ke semua rumpun keluarga Karaeng Bontoa baik yang berdomisili di Bontoa maupun di daerah lainnya, namun saya secara pribadi hadir dalam pertemuan ini dan bukan sebagai perwakilan rumpun keluarga Karaeng Bontoa ke-VI. Saya melakukan itu sebagai bentuk nalar pikir bahwa perihal tersebut merupakan media untuk mengangkat kembali eksistensi kebesaran Kakaraengang Bontoa, mengangkat kembali segala bentuk kebudayaan lokal yang ada di Bontoa di masa silam. Saya pun menyatakan sikap dalam bentuk dukungan dan persetujuan bergabung dalam kelembagaan tersebut.
Dari rumpun keluarga Karaeng Bontoa ke-VI dihadiri oleh saya seorang diri ( Muhammad Alam Syah Karaeng Lira). Rumpun keluarga Karaeng Bontoa ke - XIII dihadiri oleh Zaenal Abidin Puang Tekko. Dari Rumpun keluarga Karaeng Bontoa ke - XII dihadiri oleh Syamsir Puang Tappu, Syamsri Nahar Puang Bau, Prof. Muh. Asdar Puang Terru. Dari rumpun keluarga karaeng Bonto ke XXII dihadiri oleh Andi Justin Puang Rowa. Turut pula hadir beberapa tokoh - tokoh pemuda Bontoa dan perwakilan dari rumpun keluarga gallarrang Salendrang dan gallarrang Lempangang. Muh. Asdar Puang Terru mengaklamasikan diri sebagai ketua Lembaga Adat Karaeng Bontoa dengan alasan bahwa kepengurasannya telah terbentuk jauh hari sebelum pertemuan hari ini dan menyatakan bahwa 'enunjukannya sebagai ketua lembaga adat merupakan amanah dari rumpun keluarga karaeng Bontoa ke - XII, XIII dan XXII.
Kamis 19 September 2024. Rumpun keluarga dari Karaeng Bontoa ke XVII dan XIX, mengirim somasi dalam bentuk format ketikan WA ke panitia pelaksana kegiatan adat "aklangiri kalompoang" yang akan dilaksanakan oleh Lembaga Adat Karaeng Bontoa sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap pembentukan Lembaga adat Karaeng Bontoa yang telah terbentuk ,dan sebagai bentuk penolakan tentang kegiatan "aklangiri kalompoang" yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu 21 September 2024 mendatang. Somasi tersebut adalah bentuk kekecewaan dari pihak rumpun mereka karena tidak dilibatkan dalam pembentukan Lembaga Adat Kakaraengang Bontoa. Saya secara pribadi membenarkan hal tersebut karena semestinya dalam pembentukan lembaga ini harus pula melibatkan semua rumpun keluarga karaeng Bontoa tanpa terkecuali. Maksud kedua dari somasi tersebut menyatakan bahwa Lembaga Adat Karaeng Bontoa yang telah terbentuk dianggap ilegal dan tidak resmi karena kepengurusannya belum pernah dilantik dan dikukuhkan oleh pihak yang berwenang yaitu oleh Sombayya di Gowa ( Raja Gowa ke XXXVIII ) karena Kerajaan Bontoa di masa lalu adalah bagian dari kerajaan palili atau kerajaan yang dinaungi oleh kerajaan Gowa.
Sabtu 21 September 2024. Diselenggarakan kegiatan adat aklangiri kalompoang. Rentang waktu 70 tahun prosesi aklangiri kalompoang baru dilaksanakan kembali di kampung Bontoa. Prosesi aklangiri Kalompoang dilaksanakan pada malam hari setelah sholat isya. Membuka benda kebesaran kakaraengang Bontoa yang bernama Cindea. Cindea ini adalah merupakan sutra pemberian dari Sombayya di Gowa pada masa pemerintahan I Manriwa Gauk Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Bulaeng ( Somba Gowa ke -X) kepada I Mannyarrang ketika diamanahkan menjadi Karaeng Bontoa pertama di bagian utara Maros. Di hadapan Cindea tersebut, dilakukan prosesi akngaru (pengucapan ikrar setia) oleh semua keturunan karaeng Bontoa dan Gallarrang yang hadir pada malam itu. Diiringi dengan tabuhan gandrang (gendang adat). Sebelum kegiatan aklangiri ini dilakukan, pada pagi harinya didahului dengan prosesi aklekka jekne ( prosesi pengambilan air untuk mencuci benda pusaka) dari sumur tua yang berada di tengah kampung Bontoa. Air inilah yang digunakan sebagai pencuci pusaka kerajaan Bontoa yang berupa keris kecil berukuran panjang sejengkal yang selalu disimpan berdampingan dengan lipatan sutra cindea pada tempatnya. Prosesi "aklangiri kalompoang" dilakukan pada malam hari.
Kegiatan aklangiri kalompoang kali ini, didahului dengan kegiatan aklekka jekne. Dan ziarah ke semua makam Karaeng Bontoa yang ada di pekuburan Bontoa. Setelah sholat dzuhur kegiatan ini dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan pelantikan dewan pengurus organisasi KKAS DPK Bontoa ( Kerukunan keluarga Arung Sulawesi Selatan Dewan Pimpinan Kecamatan Bontoa) dan Pelantikan Laskar Lembaga Adat Karaeng Bontoa. Muhammad Alam Syah Karaeng Lira sebagai ketua KKAS DPK Bontoa, Syarifuddin Daeng Tola sebagai ketua Laskar Lembaga Adat Karaeng Bontoa. Kegiatan ini turut pula dirangkaikan dengan pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Penggerak atau yang tetlibat sebagai kepanitiaan dalam kegiatan ini semua adalah perwakilan dari beberapa rumpun keluarga karaeng bontoa, Keanggotaan dari Komunitas Seni Budaya Tiga Lontar Polowali Bontoa dan Sanggar Seni Budaya Bara Ejayya Bontoa.
Kegiatan ini dihadiri oleh Bapak Lurah Bontoa, Camat Bontoa, Bupati Maros. Rumpun perwakilan kerajaan "toddo limayya ri marusuk" tak seorang pun yang hadir dalam kegiatan tersebut, temasuk Karaeng Marusu dan Sombayya di Gowa tidak hadir.
Kamis 26 September 2024. Saya kembali bertemu dengan Syamsir Puang Tappu dari perwakilan rumpun keluarga Karaeng Bontoa ke - XII membahas masalah perkembangan lembaga adat dan prosesi kebudayaan di Bontoa ke depan. Kami sama-sama bersepakat untuk mempersatukan semua rumpun keluarga Karaeng Bontoa sebagai bentuk kekuatan membangun simbol Kakaraengang Bontoa kembali yang sekian puluh tahun telah hilang karena modernisasi zaman. Kami berharap tidak ada tumpang tindih antar sesama rumpun, melainkan mereka akan kami upayaka supaya mereka bisa sama-sama bersatu dalam semua agenda kegiatan yang mengatasnamakan Karaeng Bontoa secara umum, tanpa mengunggulkan satu rumpun tertentu.
Jum'at 27 September 2024. Saya mendapat kabar dari keluarga yang berada di Pangkep dan Labbakkang bahwa akan membentuk organisasi Ikatan Trah Keturunan I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke-VI. Tujuannya adalah sebagai media silaturhami antara sesama rumpun keluarga karaeng Bontoa ke - VI. H. Luthfi Hanafi Karaeng Tayang ditunjuk sebagai ketua organisasi trah.
Rabu 02 Oktober 2024. Oleh beberapa keluarga dari Bontoa dan Tangkuru bersama - sama melakukan perbaikan makam I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI yang terletak di pekuburan Tangkuru. Posisi batu makamnya diperbaiki dengan tetap mempertahankan bentuk originalnya. Hanya posisi batu makamnya yang miring dan rebah dikembalikan pada posisi awalnya.
Sabtu 26 Oktober 2024. Pengukuhan dan pelantikan pengurus Ikatan Trah Keturunan I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke-VI dilaksanakan di Bontoa. Di halaman kediaman Rosmita Karaeng Ngugi yang dulunya merupakan bekas tempat pelantikan para raja - raja Bontoa di masa lalu. Kegiatan tersebut berlangsung dengan khidmat karena dihadiri oleh Bapak Lurah dan Camat Bontoa beserta aparat pengamanannya ( Babinsa dan Binmas), dihadiri oleh semua rumpun keluarga keturunan I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke VI dari Labbakkang, Pangkep, Balocci, Tangkuru, Kassijala, Belang- Belang dan Tala Mangngape dan Bontoa. Turut hadir Karaeng Labbakkang (Andi Sukri Karaeng Ramma) bersama Lembaga Adat Karaeng Labbakkang beserta jajarannya, Karaeng Simbang ( Andi Fachri Makkasau Karaeng Ngunjung), Karaeng Marusu ke XXIV ( Andi Abdul Waris Tadjuddin Karaeng Sioja) dan Somba Gowa ke XXXVIII yaitu Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang. Sombayya inilah yang melantik dan mengukuhkan kepengurusan lembaga Ikatan Trah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke-VI.
Kedatangan Sombayya disambut dengan kehangatan dan rasa kekeluargaan yang sangat dalam. Rombongan Sombayya dari Gowa dijemput pasukan berkuda mulai dari jalan poros Tambua menuju Bontoa. Dipertigaan jalan menuju kampung Bontoa, sombayya dijemput oleh iring-iringan gendang ( gandrang adat ) dan pasukan bertombak dan beberapa tarian adat termasuk tari paduppa dan akngaru di hadapan sombayya.
Minggu 27 Oktober 2024. Saya menerima undangan dari Sanggar Seni Bara Ejayya Bontoa Untuk Lembaga Ikatan Trah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa Ke-VI untuk menghadiri kegiatan malam pagelaran seni dan budaya yang diselenggarakan di Bontoa. Pada hari ini juga saya mendapatkan kabar dari beberapa rekan-rekan seprofesi seniman dan budayawan bahwa beberapa rumpun komplaian dengan semua agenda budaya yang dilaksanakan di Bontoa. Termasuk persolan Lembaga Adat Karaeng Bontoa dan Lembaga Ikatan Trah Keturunan I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke -VI. Ada yang pro dan kontra. Khusus lembaga adat Karaeng Bontoa dianggap wajar jika beberapa rumpun karaeng Bontoa keberatan, karena mengatas namakan Karaeng Bontoa secara umum tanpa adanya keterlibatan semua rumpun karaeng Bontoa dalam pembentukannya. Untuk iktan Trah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke -VI adalah lembaga yang dibentuk berdasarakan ikatan kekeluargaan satu rumpun tertentu , dan tidak mengatasnamakan Karaeng Bontoa secara umum, melainkan hanya Terkhusus pada Karaeng Bontoa ke-VI saja yang merupakan leluhur dan garis kebangsawanan rumpun keluarga kami, meskipun pada dasarnya leluhur kami asal muassalnya dari Karaeng Bontoa pertama sampai pada Karaeng Bontoa keenam. Hanya beberapa pihak yang salah paham, karena mereka menganggap bahwa dalam ikatan Trah tersebut akan dilakukan pengangkatan Karaeng Bonto ke XXIII, namun hal tersebut keliru, dan bukan itu tujuan dibentuknya ikatan trah tersebut. Setelah disebarkan beberapa informasi klarifikasi, maka semua pihak turut mendukung pembentukan ikatan trah tersebut.
Senin 28 Oktober 2024. Saya mendapatkan kabar dari Syamsir Puang Tappu dan kepala dusun Talawe - Pattunggalengang ( Syarifuddin Daeng Tola ) yang sekaligus sebagai ketua Laskar Lembaga Adat Karaeng Bontoa serta bapak kepala dusun Bontoa ( Muhammad Amal Syah Karaeng Naba) bahwa rumpun keluarga Karaeng Bontoa ke -XVII dan XIX akan membentuk pula ikatan trah kekeluargaan mereka. Saya menyikapi dengan bijak karena saya menganggap bahwa alternatif seperti itu adalah hal yang sangat baik dan tepat karena nantinya akan mudah mempersatukan semua kubuh rumpun. Ketika telah terbentuk setiap trah rumpun, sudah pasti terorganisir dan sudah menunjuk ketua atau perwakilannya masing- masing ketika suatu saat nanti akan dilaksanakan pertemuan penting yang akan membahas persoalan pengangkatan Karaeng Bantoa ke - XXIII yang harus melibatkan semua rumpun, tanpa terkecuali. Maka dalam konteks ini, setiap rumpun berhak mengajukan calon karaeng yang akan diusungnya ,lalu disepakati bersama tentang siapa yang akan dipilih menjadi Karaeng Bontoa ke- XXIII.
Jum'at 08 November 2024. Lembaga Ikatan Trah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke- VI menerima undangan dari PALASARA ( Perhimpunan Agung Lembaga Adat Sulawesi Selatan Barat) untuk menghadiri deklarasi perhimpunan lembaga adat termaksud yang dilaksanakan di gedung serba guna kantor bupati Maros pada tanggal 10 November 2024.
Selasa 12 November 2024. H. Muh. Luthfi Hanafi Karaeng Tayang yang merupakan Ketua Ikatan Trah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke-VI bertemu dengan Syamsri Nahar Puang Bau yang merupakan Ketua Umum KKAS ( Kerukunan Keluarga Arung Sulawesi Selatan) Kabupaten Maros sekaligus pula merupakan bagian dari Rumpun keluarga besar Karaeng Bontoa ke - XII. Lokasi pertemuan mereka di Kalibone ( Pangkep). Berdiskusi tentang kesejarahan Bontoa dan saling mengenal lebih dekat yang keduanya merupakan sama - sama keturunan karaeng Bontoa.
Rabu 13 November 2024. Malam. Seorang sahabat yang merupakan budayawan dan peneliti bernama Andi Yusran Makkulau Puang Rukka datang bertamu di kediaman saya di Bontoa. Beliau merupakan sahabat seperofesi seniman yang sama - sama pernah terlibat pula dalam ke'anitiaan kegiatan "aklangiri kalompoang" yang pernah diselenggarakan oleh Lembaga Adat Karaeng Bontoa beberapa bulan yang lalu. Kami membahas tentang perkembangan Lembaga adat karaeng Bontoa di masa yang akan datang dan membahas pula tentang peran penting Lembaga Ikatan Trah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI supaya bisa berkolaborasi bersama dengan Lembaga Adat Karaeng Bontoa mengangkat kembali eksistensi keberadaan Kerajaan atau Kakarengang Bontoa yang pernah ada. Termasuk membicarakan tentang keinginan kami mengangkat Karaeng Bontoa ke - XXIII sebagai simbol kebudayaan Bontoa dan sebagai bentuk pemajuan kebudayaan di tanah Bontoa. Turut pula membahas tentang lembaga seni Tiga Lontar Polowali Bontoa dan Lembaga Seni Budaya Bara Ejayya Bontoa untuk bersama- sama memunculkan kembali kearifan lokal yang pernah ada di lingkup Kakaraengang Bontoa. Mendiskusikan tentang peran pemuda dan ormas - ormas lainnya yang ada di Bontoa untuk berkolaborasi membangun dan membesarkan Bontoa di masa mendatang.
Komentar
Posting Komentar