ASAL-USUL PENAMAAN BARA EJAYYA DI BALIK KISAH PENGEJARAN ARUNG PALAKKA BERSAMA I JOROK SAHABATNYA
ASAL-USUL PENAMAAN BARA EJAYYA DI BALIK KISAH PENGEJARAN ARUNG PALAKKA BERSAMA I JOROK SAHABATNYA
Daftar lokasi peta blok lingkungan Bontoa mengenai pajak bumi dan bangunan, ditemukan nama lahan 'Bara Eja' (Bara Ejayya). "Kereanga erok nubayarak simana tananu?" "Anjo mae katte laukang ri Bara Ejayya." Artinya : "Yang mana pajak sawahmu yang akan kau bayar?" " Di sana yang di bagian barat, di Bara Ejayya". Demikian ungkapan yang seringkali saya dengar ketika seseorang datang membayar pajak bumi dan bangunannya yang berbentuk sawah kepada paman yang merupakan seorang kepala dusun waktu itu. Dulu, seorang kepala dusun bertugas pula memungut pembayaran pajak bumi dan bangunan warga dalam bentuk lahan apapun. Baik itu berbentuk lahan sawah dan lahan perumahan ataupun lahan tambak serta lahan perkebunan. Nantinya pembayarannya akan di setor ke pemerintah kelurahan atau desa.
Bara Ejayya merupakan area persawahan yang membentang antara perkampungan Bontoa dan Pattunggalengang. Mendengar kata "Bara Ejayya", sepintas saja seolah mengantar kita pada peradaban masa lalu. Menggambarkan kompleksitas sejarah dalam benak kita. Melahirkan tanya dan keingintahuan akan asal-usul penamaannya. Sungguh tinggi nilai rasa kesejarahannya ketika seseorang menuturkan nama tempat itu. "Bara Ejayya", tentu menyimpan misteri dibalik penamaannya yang seakan menggiring kita pada peradaban sejarah masa silam.
"Bara Eja" ( Bara Ejayya) merupakan bahasa makassar yang tersusun dari dua kata yaitu "bara" dan "eja". "Bara" berarti "kandang" atau "gelanggang", "eja" berarti "merah". Jadi, "bara eja", jika diartikan secara etimologi bermakna "kandang merah" atau "gelanggang merah".
Namun pengertian secara terminologi, "bara eja" bisa saja memiliki makna "gelanggang yang merah karena darah" bisa pula bermakna "bara api yang merah". Berbeda lagi jika diartikan secara semiotik, "bara eja" dapat diartikan sebagai "sisa dari api yang telah padam" atau "semangat pertarungan sampai titik darah penghabisan dalam sebuah gelanggang". Maknanya bisa saja berubah sesuai konteks kalimatnya. Misalnya ; "bara tedong" berarti "kandang kerbau". "Bara pepek" berarti "bara dari api". "Eja tompi na doang" yang artinya "ketika sudah berwarna merah kemudian bisa dikatakan sebagai udang". Ungkapan ini adalah sebuah prinsip keberanian dan pantang menyerah. "yya" dalam kata "ejayya" dalam hal ini merupakan penegas dari suatu sifat atau karakter.
"Ejayya alleanga mae" berarti "ambilkan aku yang merah saja". Sehingga jika dikatakan "Lalangngannapi bara ejayya nampa nicinik kerea burakne tojeng- tojenga." Artinya : "di gelanggang pertarungan yang merah ( karena darah) kemudian kita saksikan siapa lelaki sejati". Berbeda lagi jika dikatakan "nibara ejai anjo romang nipayya". Artinya: "hutan nipah itu adalah daerah terlarang". Konteks makna "bara" dan "eja" bersifat dinamis. Menyesuaikan dengan konteks kalimat yang menyertainya.
Merujuk dari beberapa pengertian di atas dan kesesuaiannya dengan rupama ( cerita rakyat) yang pernah penulis dengar dari beberapa tetua, ditemukan relevansi makna bahwa dulunya lokasi persawahan yang bernama Bara Ejayya, merupakan tempat berkumpulnya pasukan dari kerajaan Gowa dan beberapa pasukan kerajaan Bontoa yang konon katanya semua pasukan dari kedua belah pihak, semuanya menggunakan pakaian berwarna merah sehingga tampak merona, bercahaya merah ( abbara ejai) jika dilihat dari kejauhan di bawah terik matahari siang. Menurut uraian rupama tersebut, dikatakan bahwa pasukan dari kerajaan Gowa dan Bontoa, berkumpul di padang sawah tersebut atas titah dari Sombayya di Gowa ( tidak disebutkan namanya) yang mengamanahkan pula kepada Karaeng(a) di Bontoa ( tidak disebutkan namanya) untuk memberikan bantuan pasukan. Akhirnya Karaeng Bontoa memutuskan memberikan bantuan pasukan dan memerintahkan pasukannya bergabung di padang persawahan tersebut. Hal itu dilakukan untuk memudahkan perjalanan pasukan menuju area laut untuk menghadang Arung Palakka Petta Malampe e Gemmekna dari kerajaan Bone, bersama sahabatnya yang bernama I Joroq dari kerajaan Barasa. Arung Palakka bersama I Joroq konon katanya akan melakukan pelarian ke negeri Pariyaman meminta bantuan Belanda di sana untuk memerangi kerajaan Gowa nantinya. I Joroq merupakan seorang pangeran dari kerajaan Barasa yang sekaligus adalah sahabat setia Arung Palakka. Konon katanya bahwa rencana mereka tercium oleh mata- mata kerajaan Gowa bahwa mereka akan berangkat ke Pariaman melalui jalur perairan laut kerajaan Siang atau Karajaan Barasa ketika itu.
Secara tipografi, jika di amati dari peta, lokasi Bara Ejayya yang merupakan wilayah kerajaan Bontoa memang dekat dari laut dan jalur sungai yang memudahkan perjalanan pasukan menjalankan tugasnya. Hanya beberapa kilometer saja. Tentunya sangat strategis dijadikan sebagai titik kumpul melaksanakan misi penghadaman. Kerajaan Bontoa yang merupakan kerajaan palili Gowa saat itu, berseberangan dengan kerajaan Siang ( kerajaan Barasa). Hanya sungai yang menjadi pembatas wilayahnya. Tentunya, mempermudah perjalanan untuk menyergap Arung Palakka melalui jalur laut.
Berangkat dari kisah yang diceritakan oleh sang kakek, ada motivasi dan keingintahuan akan hal tersebut, maka tulisan ini lahir sebagai bentuk interpretasi penulis tentang asal - usul penamaan sebuah tempat bernama Bara Ejayya yang berada dalam wilayah kerajaan Bontoa dahulu kala. Penamaan Bara Ejayya dan Bontoa masih tetap ada sampai sekarang. Bara Ejayya menjadi nama lokasi hamparan sawah sebagai cakupan wilayah Bontoa. Bontoa sendiri menjadi nama kelurahan dan kecamatan yaitu, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.
Benar tidaknya kisah ini, tercatat dalam sejarah atau tidak, namun faktanya ada bentang persawahan antara Bontoa - Pattunggalengang bernama Bara Ejayya yang areanya masih bisa dikunjungi sampai saat ini. Kisah penamaannya fiktif atau nyata, namun menjadi magnet bagi kami yang mendengarnya karena didalamnya tersirat kisah arung palakka dari Bone bersama sahabatnya I Jorok dari kerajaan Barasa. Disebutkan tentang Sombayya di Gowa bersama pasukannya, di sebutkan pula Karaeng(a) di Bontoa bersama pasukannya. Semua itu menjadi uraian kisah yang menumbuhkan jiwa heroik kami, membuat siapa yang menyimaknya hanyut dan meminta untuk diceritakan kembali pada malam berikutnya.
Hehegh....Malam berikutnya, sang kakek pun lanjut menuturkan kisah. Sambil melenting tembakau sesekali menyeruput kopi hitam yang telah diseduh bersama serpih gula aren dari Camba sebagai pemanisnya. Kisah yang berbeda, kakek berlisan dengan semangatnya menuturkan sebuah kisah baru bahwa di sebelah barat kampung Bontoa terdapat kampung yang dinamakan Pattunggalengang. Menurut uraiannya, dinamakan Pattunggalengang karena kampung itu merupakan medan tarung atau medan duel para tubarani ( sipattunggalengang) di masa lampau. Entahlah, namun uraian itu sempat terlintas di telinga kami. ***
Bontoa, 04 November 2024
Redaksi : Muhammad Alam Syah Krg. Lira.
Komentar
Posting Komentar