NASKAH SENDRATASI PERJALANAN I MANNYARRANG MENJADI KARAENG BONTOA PERTAMA DI UTARA MAROS
NASKAH SENDRATASI PERJALANAN I MANNYARRANG MENJADI KARAENG BONTOA PERTAMA DI UTARA MAROS
Ditulis oleh : Muhammad Alamsyah Krg. lira
Dipentaskan : Sanggar Seni Bara Ejayya Bontoa , Komunitas Tiga Lontar Polowali Bontoa , KKAS DPK Bontoa dan Laskar Adat Bontoa. 28 Oktober 2024.
Pemeran :
I Mannyarrang : Indra
Pembawa baki : Amel, Hikmah
Pembawa dupa : Tati
Tubarani : Haekal, Farel, Rijal
Pembaca Puisi : Sila, Barong
Penari perahu : Aziza, Arma, Maghfira , Tiara, dkk...
Perentang kain perahu : Anggota baru Lontar ...
Penari Paddeko / addeengka ase lolo: Nabila , Alfira ,Cantika, Alisa, Saskina
Penampi Beras: Sakina,
Pejinjing Air : Maghfira , Aziza, Arma, Tiara.
Prajurit kerajaan : Faiz, Randi , dkk.../ Sebanyak Mungkin
Masyarakat Kerajaan Bontoa: Anggota baru lontar dkk..../ Sebanyak Mungkin.
Pembaca sinopsis dan Prolog : Dian
Pemusik : Iwan, Bagas, Aqsa, Acci dkk......
Musik pembuka :
Musik yang digunakan Tabuhan pakanjarak makassar, puik - puik paturung sumanga, suling, kecapi ,vibrafone, efek suara kuda, efek suara proses menempa besi senjata kerajaan. Efek suara ombak lautan.
Pengantar Cerita ( Sinopsis) :
Dikisahkan Bontoa, dulunya bernama Tanetea. Dikatakan Bontoa karena merujuk pada tipografinya yang tinggi dibandingkan daerah sekitarnya dan tidak pernah tergenang oleh banjir ataupun air bah, meskipun di daerah sekelillingya seringkali dilanda banjir yang dahsyat.
Bontoa dulunya disebut pula Tanetea, " tanetea dalam bahasa makassar bermakna " agang nionjok ( tempat berpijak, atau tempat berjalan yang baik). sehingga dikatakan bahwa tanetea adalah tanah atau dataran yang sangat baik untuk berpijak atau menetap . Tempat berpijak yang baik, menetap melangsungkan kehidupan bermasyarakat karena lokasinya aman dari bencana alam.
Bontoa pun menjelma dalam suatu tatanan kerajaan yang dipimpin oleh seorang karaeng. Karaeng tersebut bernama I Manyyarrang Daeng Makkiok. I Mannyarrang Daeng Makkiok adalah sosok Karaeng pertama di kerajaan Bontoa. Bagaimana kisah dan perjalanan I Mannyarrang ke tanah Bontoa, selamat menyaksikan.
Musik : Tunrung Pakanjarak. Beralih ke suara Suling atau kecapi. Suara kuda, suara tapak kuda berlari dan berjalan. (Suasana negeri atau kampung kerajaan yg damai).
Visual : muncul rombongan prajurit berbaris sambil berjalan, dipimpin oleh seorang lelaki menuju ke utara lalu kembali berjalan ke selatan. Beberapa kelompok prajurit memperagakan latihan silat beberapa gerakan. Beberapa saat kemudian..mereka meninggalkan lokasi pentas.
Rombongan prajurit berteriak sambil berjalan : " Gowa Kalabbirangta, Gowa Kalabbirangta , Gowa Kalabbirangta.
Prolog :
Dikisahkan sosok seorang lelaki gagah dan pemberani. Ayahnya bernama I Pasiri Daeng Mangngasi Karaeng Labbua Talibannangna dari kerajaan Bangkala. Ibunya bernama I Kare Pate Daeng Takammu Karaeng Bilik Tangngayya dari kerajaan Gowa. Lelaki itu tak lain adalah sosok dari cucu sombayya di Gowa. Cucu dari I Manriwa Gauk Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng yanv merupakan Somba ke- 10 di kerajaan Gowa.
Visual : Muncul Sosok lelaki gagah berdiri menghadap langit, mengenakan passapu merah di kepalanya , bersarung sutra nan indah. Dialah , sosok I Mannyarrang.
I Mannyarrang :
( berjalan menuju suatu tempat lalu bersimpuh)
Suara dari belakang layar :
Kuamanahkan engkau wahai cucuku, menjadi karaeng maggauka ri butta awwarakna Gowa , berangkatalah bersama pengikutmu. Berangkatlah membawa Cindea sebagai perwakilan diriku, sebagai tanda kebesaranmu, sekaligus sebagai passikkok sumangaknu, simpul rindumu kepada Butta Gowa.
I Mannyarrang :
Tabek Sombangku, kipammopporang mama jai dudu. Hamba siap melaksanakan titah sombangku.
Visual : muncul 3 orang penari, 1 orang pembawa dupa dan beberapa rombongan Tubarani. Rombongan tubarani mengambil tempat di sudut pentas. Satu orang membawa baki berisi kain sutra yang indah ( Cindea). Satu orang membawa baki yang di atasnya tersimpan satu badik pusaka untuk dipakai oleh I Manyyarrang. Satu penari membawa dupa.
Penari yang membawa dupa mengelilingi area lokasi dan mengelilingi I Mannyarrang dan Penari lainnya sambil menebar asap dupa ke arah mereka.
Kedua penari yang membawa bakik berisi kain sutra dan badik pusaka berlutut dihadapan I Mannyarrang sambil menyodorkan bawaan mereka.
Lalu I Mannyarrag mengambil kain sutra tersebut lalu dijadikannya selendang sekaligus dililitkan pada pinggangnya menjadi pabbekkeng ( pengikat pinggang). Lalu diambilnya badik pusaka untuk diselek di pinggangnya
Musik : tabuhan tunrung Pakanjarak dan pembawa dupa kembali menebar dupa.
Beberapa saat kemudian, melompat seorang tubarani melantungkan sepenggal aru di hadapan I Mannyarrang sebagai bukti kesetiannya untuk ikut bersama beliau menuju tempat yang dititahkan oleh somba Gowa ke - X.
Visual : Muncul 2 orang lelaki ( tubarani) membawa kain lalu membentuknya seperti perahu, disusul 8 orang penari latar langsung duduk di samping bentang kain yang berbentuk perahu itu. Semuanya membentuk posisi yang sama seperti mendayung perahu.
Tubarani berteriak
Tubarani 1 : Sukkikmi parurua Karaeng...lebbak nibantangmi Sombalaka
Tubarani 2 : Ranrang tatappuka, ranrang tama kombeka karaeng....
Semua penari dan tubarani teriak : Gowa kalabbirangta, Gowa kalabbirangta, Gowa Kalabbirangta.
I Mannyarrang : ( menggemakan slogan) Banderaku , Sirik Na Pacce, Banderaku Sirik Napacce.
I Mannyarrang dan 10 penari Latar : Banderaku ,sirik na Pacce. Banderaku sirik
na pacce. Banderaku sirik na pacce.
I Mannyarrang berjalan menuju bentang kain yang berbentuk perahu. Naik ke atasnya ( gerak seolah telah berlayar di lautan menuju tanah Bontoa)
Suara dari belakang layar :
Perjalanan I Mannyarrang pun dimulai. Ia berlayar dari perairan laut makassar melalui selat tallang Battanga menuju bagian utara Maros. Ia membawa Cindea sebagai tanda kebesarannya dari Gowa.
Musik : irama dongang- dongang.
Disusul pembacaan puisi :
PEMBACAAN PUISI BENDERAKU SIRIK NA PACCE KARYA MUHAMMAD ALAMSYAH PALIRA - SAMPAI SELESAI OLEH SILA DAN AKBAR BARONG
Prolog:
Akhirnya I Mannyarrang tiba di suatu tempat bersama rombongannya, Melalui muara sungai Binanga Sangkara yang berbatasan antara kerajaan Siang dengan kerajaan Bontoa saat itu. Bersama rombongannya ia menelusuri sungai tersebut sehingga sampai pada wilayah perairan sungai kassijala yang disebut Limbangang, dari situlah I Manyarrang bersama rombongannya berjalan ke selatan sehingga menyaksikan sebuah gundukan tanah yang membukit. tempat itulah yang disebut sebagai Bontoa atau Tanetea.
Tubarani 1 : Bonto ....Bonto......Bonto....karaeng ....
Tubarani 2 : Liwaki Abbontona Karaeng.....abbonto tojengi karaeng
I Mannyarrang berjalan, menuju gundukan tanah tersebut diikuti oleh pengikutnya sambil membawa sebuah petaka dari gowa. Tiba - tiba I Mannyarrang meminta petaka tersebut dari prajuritnya dan menancapkannya di atas gundukan tanah tersebut.
I Mannyarrang : Ikau ngaseng tau baraniku , para joa dan pengikutku, di sinilah kita akan menetap sesuai titah sombayya di Gowa. Iami anne nakuarengmo butta Bonto. Bontoa, maknassa bori pakrasanganta, Ajjulua Butta Gowa, Sitalianga Butta Bangkala.
Tobarani dan pengikut : Hidup Karaengku I Mannyarrang, Karaengna tu mabbontoa ri Bontoa. Hidup I Mannyarrang ,Karaengna tu mabbontoa ri Bontoa. Salewanggngki karaengku I Mannyarrang.
Tubarani : Tiba- tiba melompat menyatakan sikap kesetiaannya kepada Sang Raja dalam sebuah ikrar ( aru/ Akngru) .
Prolog : I Mannyarrang pun menjadi karaeng pertama di kerajaan Bontoa ini, diperkirakan antara tahun 1600-1650. Wilayah kekuasaanya meliputi 16 kampung. Kampung tersebut ialah ,Panjallingang, Balosi, Panaikang, Pakrasangang Beru, Belang- Belang, Salendrang ,Suli - Suli, Sikapayya, Lempangang, Batu Naparak, Tangnga Parang, Pannambungang, Mangngemba, Lambe- Lambe, Ujung Bulu, dan Bontoa ini sendiri.
Tubarani : Tabek Karaengku. I kattemi kareng Maggauk karaengku ri butta Bonto, makkanamaki mae ,na I Kambe mappajari.
I Mannyarrang : Numassing akkokomako eroka akkoko, nulamung ase eroka aklamung ase, nuboya ri jekne eroka abboya rijekne, sukkuki paserena batara ri butta malabbiritta , ri buttana sikontu tu Mabbontoa .
Musik : Anging Mammirik kupasang....( Dinyanyikan diiringi suling dan gendang)
Visual : muncul rakyat yang memvusualkan panen padi, visual lelaki nelayan , visual perempuan menampi beras, visual lalaki makkatto padl, visual penari perempuan maddengka ase lolo, visual lelaki memikul air ,visual wanita menjinjing air menggunakan ember di atas kepalanya ...
Epilog :
Bontoa menjadi kerajaan yang damai dan sejahtera. Lahan pertanian padi basah mulai digagas, tambak dan pertanian lainnya pun semakin berkembang, ternak semkin berkembang, kemandirian kerajaan Bontoa semakin luar biasa. Sistem tatanan pemerintahan dan tradisi kakarengang Bontoa berjalan sesuai dengan tatanannya sendiri . Seiring berjalannya waktu, Bontoa merupakan salah satu bagian dari Federasi Toddo Limayya ri Marusuk. Lambat laun dengan lahirnya sistem pemerintahan demokrasi Negara Kesatuan Republik Indonesai, kini, Bontoa menjelma dalam satu wilayah yang disebut Kecamatan Bontoa.
***

Komentar
Posting Komentar