I PANDIMA DAENG MALLIONGI KARAENG BONTOA KE - VI DAN ASAL USUL PENAMAAN POLOWALI DI BONTOA MAROS
ASAL- USUL PENAMAAN POLOWALI DAN KAITANNYA DENGAN KISAH I PANDIMA DAENG MALLIONGI KARAENG BONTOA KE - VI
Ditulis oleh : Muhammad Alam Syah Krg. Lira.
Ada sebuah tempat bernama polowali. Polowali ini adalah daerah yang terletak antara perbatasan kecamatan Bontoa dengan Kecamatan Lau kabupaten Maros. Polowali sebenarnya adalah plesetan dari Kata "polong pombali. "Polong pombali" dalam bahasa makassar berarti "terpotong dua / terbagi dua / pecah menjadi dua ". Namun lambat laun, Kata "polong pombali" ini berubah penyebutan menjadi "polowali" sebagai bentuk kelugasan dalam mengucapkan, sekaligus sebagai bentuk pengaruh bahasa Bugis, namun tidak mengalami pergeseran makna. Kendatipun bahasa yang dominan digunakan oleh masyarakat setempat saat itu adalah bahasa Makassar. Menurut beberapa tutur lisan yang turun temurun, dikatakan bahwa "Polowali" ini adalah merupakan nama tempat yang pernah menjadi kediaman seorang karaeng dari Bontoa yang bernama I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke -VI.
Polowali merupakan lokasi bekas hunian Karaeng Bontoa ke-VI yaitu I Pandima Daeng Malliongi yang dikelilingi oleh area persawahan dan diapit oleh dua kampung, Kampung Bontoa dan Kampung Tangkuru. Kampung Bontoa masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Bontoa, Tangkuru masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Lau.
Merujuk pada tempat ini, orang tua terdahulu serigkali mengucapkannya dalam kalimat " anjoeng ri Polowali, bate pabballakanna Karaeng Liong ri olo" yang artinya "di situ di Polowali ( Polong Pombali ) bekas tempat kediaman ( rumah ) karaeng Liong dahulu kala". Itu tidak bisa dipungkiri, karena tempat ini masih ada sampai sekarang, tetapi bekas rumah Karaeng Liong tidak lagi berjejak. Karaeng Liong yang dimaksud adalah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI. Namun dahulu masyarakatnya lebih sering menyebutnya Karaeng Liong Atau Karaeng Bonto.
Ada kisah menarik dari kisah Karaeng Bontoa Ke - VI ini sehingga mengapa ia memilih bermukim di daerah tersebut. Dikatakan bahwa beliau adalah seorang raja yang memegang takhta sebagai Karaeng Bontoa ke - VI ( wilayah Kecamatan Bontoa sekarang). Nama lengkapnya yang tercatat dalam catatan sejarah kerajaan Bontoa dan beberapa sumber silsilah keturunan beliau bernama I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI. Jangan salah, Bukan I Malimpoang Daeng Malliongi Karaeng Tangkuru yang dimaksud. Namanya hampir sama, namun beda sosoknya. I Malimpoang Daeng Malliongi adalah cucu menantu dari I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI karena memperistri cucu beliau yang bernama I Merana Daeng Balluka ( memakai nama istri dari I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa Ke- VI). Keterangan ini dikutip dari silsah rumpun keluarga milik I Mekko Karaeng Masing ( generasi ke empat dari I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa Ke - VI ) yang kini dipegang oleh keluarga H. Burhanududdin Karaeng Mangati bersama saudara - saudaranya yang merupakan turunan generasi ke lima dari I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke -VI.
Beberapa tutur yang turun temurun dalam rumpun keluarga besar beliau, dikatakan bahwa I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke-VI memilih menetap di Polowali (Polong Pombali), tidak bermukim di kampung Bontoa, karena pertimbangan rumpun keluarga yang saat itu terbagi di dua tempat, yaitu Tangkuru dan Bontoa. Jadi ia memilih berada di posisi poros tengah sebagai simbol atau pertanda akan hadirnya dalam dua rumpun keluarga besarnya saat itu. Sebagai bentuk keadilannya terhadap setiap rumpun keluarganya yang ada di Bontoa dan Tangkuru karena, ke dua pihak sama-sama meminta beliau untuk menetap di kampungnya masing - masing. Jadi sebagai seorang karaeng yang bijak, ia memilih menetap di antara keduanya, yaitu di Polowali (Polong Pombali) yang di apit oleh kedua kampung tersebut yaitu Bontoa dan Tangkuru. Penamaan itu tidak terlepas pula dari bentuk tipografi Polowali yang memang terbagi dua. Di belah oleh jalan lintas desa atau kecamatan dan diapit oleh dua kampung besar yaitu Tangkuru dan Bontoa.
Dari situlah awal mula penamaan Polowali atau Polong Pombali yang dimaksudkan mengarah pada makna filosofi dua rumpun keluarga besar sang karaeng yang terpisah kampung tinggalnya. Di sebelah selatan Tangkuru dan sebelah utara adalah Bontoa. I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa Ke - VI berada di poros tengah, sehingga ada pula sumber lisan yang lain menyebutnya dalam bahasa Makassar "pombali - bali" yang bermakna "dua sisi". Jika diinterpretasi dari kisah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke- VI, maka merujuk pada tempat tinggal family beliau yang berada di dua tempat yang berseberangan namun dari satu rumpun kebangsawanan yang sama. Tangkuru di bagian selatan, Bontoa di bagian utara. Harus diketahui di sini supaya tidak muncul kekeliruan bahwa pada masa beliau, Tangkuru bukanlah kerajaan, melainkan hanyalah kampung yang dihuni oleh generasi - generasi karaeng bersama pengikutnya yang memiliki pertalian darah dengan bangsawan - bangsawan dari beberapa kerajaan yakni Gowa, Bone dan Sawitto. Begitupun di Bontoa saat itu. Bukti sejarahnya, ditemukannya beberapa makam bangsawan Gowa, Bone dan Sawitto di kedua perkampungan tersebut. Diperjelas lagi tetang nazab I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI yang tidak terlepas dari turunan raja Gowa dan Bangkala ( Jeqne Ponto) yang menjadi Karaeng Bontoa ke- VI di bagian utara Maros. Tentu saja turut memberikan gambaran tentang kemutlakan beliau untuk dimakamkan di mana saja. Di Bontoa atau di Tangkuru, namun fakta makamnya ,berada di Tangkuru meskipun ia adalah seorang raja di Bontoa.
![]() |
| Makam I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke- VI |
Mengapa I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa Ke - VI tidak dimakamkan di Kampung Bontoa? sementara raja - raja sebelumnya dan setelahnya dominan dimakamkan di sana? Pertanyaan ini memang sulit dijawab, ditambah lagi tidak adanya catatan sejarah yang mampu menjawab secara rinci pertanyaan tersebut. Namun penulis mencoba menganalisa dan menjawab dari sumber - sumber lisan yang dihimpun dari beberapa informan. Pertama, wasiat khusus dari beliau. " Lappasangma akleang ri butta Tangkuru, naerang bulekang tau Bonto ( Bontoa) " artinya " biarlah aku berpusara di tanah Tangkuru, diiring- iring kerandaku oleh orang - orang dari Bontoa. Demikian bunyi kutipan wasiat Sang Karaeng yang dilisankan oleh salah satu informan penulis ketika proses wawancara. Kedua , penulis juga menduga bahwa beliau dimakamkan di Tangkuru atas permintaan istri dan anaknya. Hal itu diperkuat dengan bukti situs makam beliau yang kompleks dengan kerabat- kerabat terdekat beliau. Termasuk makam istri dan anak beliau yang berada dalam satu situs. Termasuk situs makam dari suami cucu beliau yaitu I Malimpoang Daeng Malliongi Karaeng Tangkuru.
Kemungkinan ketiga adalah, beliau telah berwasiat sebelumnya untuk dimakamkan di Tanah Tangkuru karena beliau ingin menjadikan kemangkatannya dan pusaranya kelak sebagai simbol ikatan kekeluargaan yang dalam antara masyarakat Bontoa dan masyarakat Tangkuru di masa yang akan datang. Meskipun dirinya paham betul bahwa dirinya adalah seorang raja atau Karaeng Bontoa. Paham betul bahwa beliau memiliki banyak keluarga di Bontoa, namun ia memilih dimakamkan di Tangkuru sebagai pilihan bahwa biarlah tanah Tangkuru menyimpan jazadnya namun takhtanya tersematkan pada Bontoa. Hal tersebut semakna pula dengan wasiat beliau yang telah disebutkan di atas.
Sebagai pembanding. Leonar Y. Andaya dalam bukunya berjudul Warisan Arung Palakka , menuliskan wasiat Arung Palakka To Unru Daeng Serang Petta Malampe e Gemmekna ,raja Bone ke XV (1672- 2696) yang meminta dirinya dimakamkan di Gowa ketika dirinya mangkat kelak. Hal tersirat yang ingin disampaikan Arung Palakka kepada rakyatnya bahwa Gowa dan Bone adalah saudara, meskipun sebelumnya kedua kerajaan tersebut sering kali terlibat dalam peperangan dan perebutan wilayah kekuasaan. Kemungkinan konsep pesan tersirat seperti inilah yang ingin disampaikan pula oleh I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI ,sehingga memilih dimakamkan di tanah Tangkuru. Yang membedakan adalah Gowa dan Bone dalam beberapa perseteruan namun pada dasarnya adalah saudara. Bontoa dan Tangkuru tidak pernah berseteru dalam sebuah konflik kakaraengang, tetapi adalah rumpun keluarga yang harus saling menjaga di masa mendatang.
Hal demikian tidak bisa lagi dipungkiri. Beberapa generasi sekarang dari rumpun keluarga I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI banyak berdomisili di daerah Tangkuru dan Bontoa dan daerah lainnya. Bahkan terjalin kembali sistem perkawinan lintas generasi dalam beberapa rumpun yang berasal dari trah kakaraengang yang sama yaitu ,trah I Pandima Daeng Malliongi Karaeng Bontoa ke - VI.
***
Bontoa, 26 September 2024

Komentar
Posting Komentar