JANGAN MENJADI "ART POWER" ATAU "ARTISTIC JUDGE"
Esai sederhana dari sebuah pengamatan :
JANGAN MENJADI "ART POWER" ATAU "ARTISTIC JUDGE"
Ditulis oleh : Muhammad Alamsyah
Karya mereka, ya...karya mereka. Karya kita, ya...karya kita..... Setiap ide masing- masing itu berbeda. Lahir dari suatu ruang pola pikir yang terbentuk dari kontemplasi individualnya. Kita tidak bisa memaksakan idealisme untuk diterapkan pada pelakon seni lain atau pada golongan dan komunitas tertentu. Kita harus sadar bahwa: lahirnya suatu gagasan untuk sebuah karya yang bermacam - macam dari setiap individu atau komunitas itu adalah suatu bentuk kemajemukan karya dalam menumbuhkembangkan bakat dan kebebasan berekspresi. Lalu dimana peran kita sesungguhnya? Jawabnya tentu pada implementasi dan realisasi dari ide - ide atau gagasan kita masing- masing. Medianya bermacam- macam. Berbentuk seni rupa, sastra , pertunjukan dsb.
Dalam hal ini tentunya kita bicara tentang kualitas dan kuantitas karya. Mampukah membentuk sugesti manfaat bagi penikmatnya, mampukah menjadi hiburan bagi penontonnya, atau mampukah menjadi suatu nilai pembelajaran bagi siapa saja yang menginterpretasikannya. Kita tidak bisa egois, berkehendak secara "art power" atau "artitistic judge", melainkan hanya sebagai kritikus yang mampu memberikan pembenaran dari segala buah ide yang belum sampai pada titik kesempurnaan. Itupun perlu kehati-hatian, jangan sampai menjatuhkan ataupun membunuh suatu karakter bakat yang sementara berkembang dalam diri sesorang atau dalam tubuh suatu komunitas dan lembaga.
Jadilah pengamat yang baik, tidak memihak secara emosional, tetapi menjadi penengah yang bisa menjadi ruang berbagi ide dan gagasan yang lahir dari generasi manapun. Jangan angkuh dan jangan merasa hebat atas karya- karya pribadi yang telah dimiliki atau yang sudah terpublikasi dengan baik.
***
Bontoa 04-10-2022 . Menjelang subuh.
Komentar
Posting Komentar